Beranda | Artikel
Menjaga Tubuh sebagai Amanah Allah
11 jam lalu

Menjaga Tubuh sebagai Amanah Allah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Ramadhan 1447 H / 3 Maret 2026 M.

Kajian Tentang Menjaga Tubuh sebagai Amanah Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Indah dan menyukai keindahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَال

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim).

Fisik yang sempurna merupakan karunia yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Cara menjaganya adalah dengan melakukan perkara yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang dapat memudaratkan badan. Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjaga amanah tubuh.

Upaya Menjaga Kesehatan Fisik dan Jiwa

Islam memerintahkan umatnya untuk menempuh usaha yang baik dalam menjaga kesehatan, di antaranya:

  • Menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan yang halal serta thayib (baik).
  • Melakukan olahraga secara teratur dan memastikan istirahat yang cukup.
  • Menghindari makanan yang merusak kesehatan serta menjauhi perilaku makan berlebihan.
  • Menghindari gaya hidup yang buruk, seperti bermalas-malasan atau begadang tanpa tujuan yang dibenarkan.

Selain kesehatan fisik, kesehatan jiwa juga sangat penting melalui pola pikir positif dan senantiasa mengedepankan husnuzan kepada sesama manusia, terlebih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketenangan hati dan jiwa dapat dicapai dengan memperbanyak zikir serta doa. Apabila seluruh upaya ini dilakukan dengan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala agar badan sehat dan kuat dalam melaksanakan kewajiban ubudiyyah, maka hal tersebut akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat.

Keutamaan Mukmin yang Kuat

Mukmin yang kuat memiliki kedudukan yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dengan kekuatan fisik tersebut, ia dapat melakukan lebih banyak amal saleh dan memberikan manfaat bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim).

Banyak kewajiban agama yang mensyaratkan kemampuan fisik. Ibadah haji memerlukan kekuatan untuk melakukan perjalanan, demikian pula ibadah puasa yang mensyaratkan kondisi fisik yang mampu, bukan dalam keadaan sakit atau lemah yang menghalangi kewajiban tersebut.

Pertanggungjawaban atas Nikmat Jasmani

Allah Subhanahu wa Ta’ala suka melihat bekas nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya. Kesempurnaan fisik adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Pada hari kiamat, setiap manusia akan ditanya mengenai jasadnya dan untuk apa jasad tersebut dipergunakan selama hidup di dunia. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang hamba. Tatkala seorang hamba dikaruniai kesehatan, ia hendaknya menggunakan kesehatan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membantu sesama dan melaksanakan berbagai kewajiban. Orang tua perlu mengingatkan anak-anak bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang Maha Indah dan menyukai keindahan.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ الأُمُورِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Dia menyukai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara-perkara yang hina serta tercela.” (HR. Ath-Thabrani).

Seorang mukmin dituntut untuk menjaga penampilan diri, kebersihan, dan kerapian. Ia tidak selayaknya tampil kotor, jorok, atau acak-acakan, melainkan harus selalu tampak indah dan enak dipandang.

Kebersihan Lingkungan sebagai Cerminan Muslim

Karakter seorang muslim juga tercermin dari tempat tinggalnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan umat Islam untuk menjaga kebersihan lingkungan, termasuk pekarangan rumah. Beliau bersabda:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ فَإِنَّ الْيَهُودَ لا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا

“Bersihkanlah pekarangan rumah kalian, sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak membersihkan pekarangan rumah mereka.” (HR. Ath-Thabrani)

Jika kebersihan pekarangan dan halaman rumah saja diperhatikan, tentu kebersihan di dalam rumah serta kebersihan diri sendiri jauh lebih utama untuk dijaga. Kebersihan dan kerapian tidak harus identik dengan kemewahan atau kemegahan. Rumah yang sederhana atau bahkan gubuk kecil sekalipun akan terlihat indah jika dirawat dengan bersih dan rapi.

Begitu pula dengan fisik manusia. Bagaimanapun bentuk tubuh, warna kulit, maupun rupa yang dikaruniai Allah Subhanahu wa Ta’ala, semuanya akan terlihat indah jika dijaga kebersihan dan kerapiannya. Sebaliknya, fisik yang rupawan sekalipun tidak akan menarik dipandang jika penampilannya jorok dan kotor.

Adab Memelihara Rambut dan Penampilan Fisik

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan penjagaan fisik beliau. Salah satu aspek yang ditekankan dalam Islam adalah adab memelihara rambut. Bagi laki-laki yang memanjangkan rambutnya, terdapat kewajiban untuk merawatnya dengan baik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

“Barang siapa yang memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud).

Memuliakan rambut berarti menjaga kebersihannya dan menyisirnya agar tetap rapi, bukan membiarkannya kotor, berbau, atau acak-acakan. Seorang muslim tidak selayaknya tampil menyedihkan atau tampak seperti setan yang kotor dan tidak terawat.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa meminyaki dan menyisir rambut beliau secukupnya agar senantiasa terlihat rapi dan bersih. Praktik ini merupakan bentuk nyata dalam menjaga amanah badan serta memuliakan pemberian yang telah dititipkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjaga Fitrah dan Penampilan Diri

Dalam Islam, terdapat ketentuan mengenai sunanul fitrah atau sunnah-sunnah fitrah dalam memperlakukan rambut dan bulu pada tubuh. Ketentuan tersebut meliputi menggunting kumis, memelihara serta merawat jenggot, dan memberikan minyak pada rambut agar tetap rapi. Selain itu, terdapat tuntunan untuk mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, sementara rambut pada bagian tubuh lain yang tidak disebutkan ketentuannya dibiarkan sebagaimana adanya.

Seorang muslim harus menjaga fitrah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gariskan dan dilarang merusak ciptaan-Nya, seperti dengan mentato tubuh, mengikir gigi, atau mencukur habis alis yang dapat membuat tampilan menjadi aneh.

Pemahaman mengenai cara menghargai tubuh sebagai titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala harus ditanamkan sejak dini. Ketika hendak keluar rumah, anak-anak perlu dibiasakan untuk memperbaiki penampilan dengan pakaian yang bersih, bagus, dan rapi. Penampilan tersebut tidak boleh bertentangan dengan kewajiban menutup aurat. Seorang muslimah wajib mengenakan hijab syari, sementara laki-laki harus menjaga kehormatan diri dengan menutup aurat secara benar sesuai ketentuan agama.

Khusus bagi laki-laki, penggunaan parfum sangat dianjurkan saat berinteraksi di luar rumah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri sangat menyukai wangi-wangian dan tidak pernah menolak apabila dihadiahi parfum. 

Menjaga Kenyamanan Sesama Manusia dan Malaikat

Menjaga kebersihan dan kewangian diri bertujuan agar kehadiran seorang muslim tidak mengganggu orang lain saat berinteraksi. Gangguan berupa bau badan atau bau mulut tidak hanya mengganggu manusia, tetapi juga mengganggu malaikat. Oleh karena itu, Islam melarang seseorang mendatangi tempat perkumpulan, seperti masjid atau majelis ilmu, setelah mengonsumsi makanan yang mengeluarkan bau menyengat (seperti bawang putih atau bawang merah) sebelum menghilangkan baunya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah:

فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Sesungguhnya malaikat itu merasa terganggu dengan apa saja yang mengganggu anak Adam (manusia).” (HR. Muslim)

Meskipun diperintahkan untuk tampil bagus, seorang muslim harus menghindari perilaku bermegah-megah (at-tarafuh) yang dapat menjurus kepada kesombongan dan kemubaziran. Berpenampilan rapi dan elegan tidak harus menggunakan pakaian yang mahal atau mewah. Tujuan utama berpenampilan baik adalah untuk menjalankan perintah agama dan menjaga kenyamanan lingkungan sosial, bukan untuk pamer atau menyombongkan diri. 

Larangan Isbal dan Bahaya Kesombongan

Bermewah-mewah atau bermegah-megah dapat menyeret seseorang pada kesombongan dan sikap berlebih-lebihan. Dalam Islam, kaum laki-laki dilarang melakukan isbal, yaitu menjulurkan kain sarung, celana, atau pakaian hingga melebihi mata kaki. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori kesombongan. Seorang muslim harus menghindari hal ini karena sifat sombong dapat menjalar ke dalam diri melalui kebiasaan isbal, meskipun pakaian tersebut terlihat indah.

Seseorang tidak sepatutnya merasa mampu mengendalikan hati dan memastikan diri terbebas dari penyakit sombong saat melanggar ketentuan ini, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menegaskan bahwa isbal adalah bagian dari kesombongan. 

Para sahabat Nabi sangat khawatir terjatuh dalam perkara ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mempersoalkan kain sarungnya yang sering melorot karena kondisi fisiknya yang kurus. Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai hal tersebut, lalu Nabi menjawab bahwa beliau tidak termasuk orang yang sombong. Hal ini dikarenakan Abu Bakar tidak sengaja menjulurkan kainnya di bawah mata kaki, melainkan karena kondisi fisik yang membuat kainnya melorot. Riwayat ini bukan merupakan dalil untuk menghalalkan isbal dengan alasan tidak sombong, melainkan penjelasan untuk kondisi yang tidak disengaja.

Menjaga Kehormatan Sunnah

Setiap muslim wajib menjaga diri agar tidak dengan sengaja melanggar sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai batasan kain ini. Sangat tidak layak bagi seorang muslim yang telah belajar agama untuk mengolok-olok ketentuan ini dengan sebutan “celana kebanjiran” atau ejekan lainnya. Seorang muslim seharusnya menghormati syariat agamanya sendiri.

Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala senang melihat bekas nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya nampak, asalkan digunakan untuk kebaikan dan disyukuri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Hakikat Kesombongan dan Perhiasan yang Dihalalkan

Memakai pakaian atau sandal yang bagus bukan merupakan kesombongan selama tidak disertai sikap ujub (bangga diri). Ketika seorang sahabat bertanya apakah menyukai pakaian bagus termasuk kesombongan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan yang diharamkan dan dapat menghalangi seseorang masuk surga adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Beliau bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim).

Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan hamba-Nya untuk menggunakan perhiasan dan rezeki yang baik selama di dunia. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 32).

Metode Mengenalkan Jati Diri dan Fitrah kepada Anak

Metode pembelajaran yang dapat diambil dalam mendidik anak adalah prinsip “tak kenal maka tak sayang”. Sejak usia dini, anak perlu diajak untuk mengenali dirinya sendiri serta memperhatikan setiap anggota tubuh beserta fungsi dan kegunaannya. Orang tua hendaknya mengenalkan bagian-bagian tubuh, termasuk organ pribadi yang harus dijaga agar tidak terlihat, disakiti, atau dirusak.

Setiap penyimpangan dari syariat akan membawa kerusakan pada tubuh manusia. Oleh karena itu, dilarang mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti tindakan bertukar jenis kelamin atau transgender. Perbuatan tersebut menunjukkan kurangnya rasa hormat dan syukur atas pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin[95]: 4).

Penyesuaian Redaksi sesuai Tahapan Usia

Penjelasan mengenai jati diri harus diberikan dengan redaksi yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan berpikir anak pada setiap fasenya:

  1. Fase Balita (Bawah Lima Tahun): Anak mulai diajak mengenali jenis kelamin dasar, seperti perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
  2. Fase Basuta (Bawah Sepuluh Tahun): Antara usia 5 hingga 10 tahun, penjelasan diberikan lebih mendalam mengenai identitas spesifik laki-laki dan perempuan.
  3. Fase Remaja (10 Tahun ke Atas): Menjelang usia baligh, anak perlu mengetahui perubahan fisik yang akan terjadi pada dirinya.

Peran pendidikan di rumah sangat penting untuk mengawal pemahaman ini, karena informasi mengenai perubahan jati diri dan reproduksi sering kali tidak didapatkan secara lengkap di sekolah.

Menanamkan Tauhid melalui Keajaiban Tubuh

Seiring perkembangan usia, anak hendaknya terus dibekali dengan informasi tentang keajaiban tubuh manusia. Penjelasan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan bahasa sederhana akan membantu anak merasakan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Hal ini bertujuan untuk menanamkan Tauhid Rububiyah, sehingga anak takjub dan kagum kepada Sang Pencipta.

Mengenali seluk-beluk tubuh bukan sekadar tahu, melainkan upaya menyelami lebih dalam (al-bashar) atas tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 21).

Melalui pemahaman ini, diharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang bersyukur dan tidak mengingkari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, apalagi sampai merusak fitrah penciptaan-Nya. Referensi mengenai hal ini dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku “Ayat-Ayat Allah pada Tubuh Manusia” sebagai rujukan bagi orang tua dalam memberikan edukasi kepada anak.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56111-menjaga-tubuh-sebagai-amanah-allah/